Artikel ini saya tulis karena adanya pertanyaan dari pengunjung di artikel yang berjudul Bolehkah Kita Mengirim Putri-putri Kita ke Pondok Pesantren Putri

Adapun sumbernya saya kutip dari buku

SENTUHAN NILAI KEFIQIHAN UNTUK WANITA BERIMAN

Karangan : Syaikh DR. Shaleh bin Fauzan bin Abdullah al-fauzan

Penerjemah: Rahmat al-Arifin Muhammad bin Ma’ruf

Diterbitkan dan diedarkan dibawah pengawasan Direktorat Percetakan dan Penerbitan Departemen Agama Saudi arabia

Kita tidak menentang wanita bekerja di luar rumahnya, asalkan terikat dengan ketentuan-ketentuan. Ketentuan-ketentuan itu adalah sebagai berikut:

1. Bahwa wanita itu, atau masyarakat, buruh pekerjaan itu, dimana tidak ada lelaki yang dapat menangani atau melakukan pekerjaan itu.

2. Hendaknya wanita melakukan pekerjaan itu setelah menunaikan pekerjaannya di rumah, yang merupakan tugas utamanya.

3. Hendaknya pekerjaan itu di lingkungan wanita. Seperti: mengajar wanita, mengobati dan merawat wanita. Hendaknya pekerjaan itu terpisah dari laki-laki.

4. Begitu pula, tidak mengapa, bahkan wajib, wanita menuntut ilmu tentang perihal agamanya, dan tidak mengapa ia mengajarkan perihal agama yang dibutuhkan sesama wanita. Namun proses belajar-mengajar itu hendaknya dalam linhkup wanita. Dan tidak mengapa wanita menghadiri majlis ta’lim di masjid atau semacamnya dengan bertabir/hijab dan terpisah dari lelaki, sesuai dengan apa yang dilakukan wanita awal sejarah Islam (dimasa Rasululloh Sholallohu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat), dimana mereka bekerja, menuntut ilmu dan mendatangi Masjid.