Derita Anak Pedagang Kerupuk Kuah

PADANG – Salsabila. Nama yang begitu indah dan tentu saja seindah wajahnya nan masih kecil. Namun bocah berusia 4,5 tahun itu mempunyai nasib tak seindah namanya itu. Anak manis yang menjadi harapan keluarga Endrianti, 33 ini tergolek lemas di RS. M. Djamil, Padang.

Salsabila kini bergantung hidup dari slang infus yang terpasang di hidungnya. Kini putri dari Nagari Tanjuang Bonai, Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar itu terkulai lemas di ruangan RR (bedah anak RS. M. Djamil Padang).

Sesekali ia merengek, tapi bukan cengeng. Namun, karena kanker yang menjangkiti hatinya terus saja gerogoti tubuh mungil ini. Matanya sendu, menatap dengan tenang. Mungkin dalam pikirannya terbayang saat indahnya mengejar kupu-kupu di halaman sekolah dasar tempat ibunya mencari nafkah sebagai pedagang kecil-kecilan. Atau mungkin saja putri sulung Endrianti itu terbayang ketika diajak ibunya ke pasar. Namun yang jelas dirinya kini tak berdaya dengan balutan alat medis di tubuhnya nan mungil.

“Ini dia dulu,” begitu Endrianti memeragakan foto Salsabila saat masih ceria. Cantik benar anak itu. Senyumnya begitu indah dalam foto tersebut.
Kini tidak ada lagi senyum ceria itu. Tidak ada lagi gelak tawanya yang renyah. Salsabila benar-benar murung, bergolek ke kiri dan kanan. Cuma itu.
Salsabila memang dibesarkan di lingkungan sekolah, bukan karena ibunya seorang guru. Hanya Endrianti mencari penghasilan dengan berjualan kerupuk kuah di sekolah dasar di kampungnya, Tanjuang Bonai.

Endrianti membesarkan Salsabila dengan penuh harap. Bocah manis itulah satu-satunya harta yang dimilikinya dalam hidup, setelah gagal mempertahankan mahligai rumahtangga dengan ayah Salsabila. Lelaki itu telah meninggalkan Endrianti sejak Salsabila berumur 6 bulan dalam kandungan.

Ternyata cobaan hidupnya belum berhenti. Sudahlah ayahnya pergi entah ke mana, Salsabila juga menderita penyakit yang tergolong ganas. Kanker kronis liver. Mendengarkan nama penyakitnya saja bergetar hati Endrianti. Setelah Salsabila divonis mengidap kanker ganas, litak tulangnya. Tulangnya bagai dilucuti satu-persatu. Namun kenyataan harus diterima.

Rabu, (2/3) lalu Salsabila dioperasi. Operasi itu baru mengeluarkan cairan hitam yang terjebak dalam usus buntunya. Cairan itu sekira 1,6 liter. Akibatnya usus buntu Salsabila harus di potong sepanjang 5 cm.
Setelah itu, kanker ganas masih bersarang. Sampai saat ini belum jelas kapan Salsabila bisa pulang. Sementara biaya tetap harus dikeluarkan. Beruntung keluarganya mendukung. Untuk menjaga Salsabila bergantian dengan bibinya. Dua minggu sudah Endrianti mendampingi Salsabila di RS.M. Djamil. Hanya itu.

Awalnya, Salsabila mulai murung sejak enam bulan yang lalu. Tiba-tiba dia muntah-muntah, diikuti dengan mencret. Semula dia masih mengira itu adalah penyakit muntaber. Kemudian dibawa ke bidan di Puskesmas. Bidan langsung angkat tangan. Katanya tidak bisa diobati saja, Salsa harus dirawat di rumah sakit.

“Mendengarkan itu saya sudah cemas rasanya. Apalagi saya tidak punya banyak uang untuk membawa berobat jauh-jauh. Untuk hidup hari-hari saja saya cuma menjadi penjual kerupuk kuah, berapalah penghasilannya,” sebut Endrianti dengan iba.
Karena kasihan bidan di kampung itu juga membantu untuk mengobati Salsa dengan memberikan uang Rp350 ribu. Kemudian, Salsa dibawanya berobat ke rumah sakit di Batusangkar. Karena terkendala tenaga medis, akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Ahmad Muchtar di Bukittinggi.

Di Bukittinggi berobat selama 3 bulan. Biaya sudah tidak ada lagi. Akhirnya Endrianti memutuskan untuk membawa pulang. Dalam pikirannya berharap usai berobat di RS. Ahmad Muchtar Salsabila sudah sembuh, ternyata cobaan berlanjut. Salsabila belum menunjukkan tanda-tanda untuk sembuh. Badannya makin lama makin habis. Sudah tinggal kulit pembalut tulang. Hati Endrianti makin cemas.

“Saya sudah tidak punya uang lagi, sementara Salsabila masih sakit. Saya akan tetap berjuang untuk Salsabila. Saat ini saya sudah memasukkan surat permohonan bantuan pada Bupati Tanah Datar, hanya saja belum sempat bertemu dengan Pak Bupati. Beliau sedang di luar kota,” sebutnya dengan tatapan penuh harap.

Akhirnya Salsabila kembali dibawa ke RS di Batu Sangkar. Dari sini Salsabila harus dirujuk untuk dirawat di RS. M. Djamil. Bersama rujukan RS Batusangkar, Salsabila dibawa ke Padang.
Di RS. M. Djamil Padang pada minggu pertama masih dalam perawatan. Barulah pada minggu kedua Salsabila dioperasi. Pada minggu kedua ini Salsabila mulai bisa tersenyum. Namun sebenarnya, penyakit itu masih bersarang di tubuh Salsabila. “Mudah-mudahan jika dapat nanti, dengan bantuan dari Bupati itu saya bisa melanjutkan operasi anak saya,” harap Endrianti.

Catt:

Bagi pengunjung yang mau menabung untuk akhirat dengan membantu anak ini, silahkan hubungi pihak harian singgalang berikut:

Alamat Redaksi/Perusahaan:

Jl.Veteran No.17, Padang, 25116

Telepon: (0751) 25001, 36923, 38338, 893906

Faxs: (0751) 33572

e-mail: redaksi@hariansinggalang.co.id

Website: www. hariansinggalang.co.id

Rekening: Bank Lippo Cabang Padang, Bank Nagari BPD Sumatra Barat

Giro Pos: No.g.17/12. ISSN 0215-4684

Alamat Perwakilan Jakarta: Maya Indah Building, Jalan Kramat Raya No. 3-G, Senen, Jakarta, 10450

Telepon Iklan dan Sirkulasi: (021) 3904751, 3904752, 3903112, 3929631 Facs: (021) 3929630

Sumber:

http://hariansinggalang.co.id/index.php?mod=detail_berita.php&id=5494