Saya Dilarang Berpuasa?

1. Musafir

MusafirBanyak hadits shahih membolehkan musafir untuk tidak puasa, Kita tidak lupa bahwa rahmat ini disebutkan di tengah kitab yang mulia, Allah berfirman: “Barangsiapa yang sakit atau dalam safar gantilah pada hari yang lain, Allah menginginkan kemudahan bagi kalian dan tidak menginginkan kesulitan.” (Al Baqarah:185)

2. Sakit.

Rumah sakitAllah membolehkan orang yang sakit untuk berbuka sebagai rahmat dari-Nya, kemudahan bagi orang yang sakit, sakit yang membolehkan berbuka adalah sakit yang bila dibawa berpuasa akan menyebabkan satu madharat atau semakin parah penyakitnya atau dikhawatirkan terlambat kesembuhannya. Wallahu A’lam.

Berpuasa memang suatu kewajiban dan telah terbukti sangat bermanfaat untuk kesehatan. Namun dalam beberapa kasus yang melibatkan gangguan kesehatan, berpuasa justru dapat membahayakan kesehatan.

Di dalam agama Islam pun diberikan keringanan bagi orang sakit untuk tidak berpuasa sehingga bukanlah suatu kesalahan untuk tidak berpuasa apabila kondisi sedang tidak memungkinkan. Beberapa kondisi gangguan kesehatan yang disarankan untuk tidak melakukan puasa adalah seseorang dalam kondisi :

  • Gangguan jantung (gagal jantung, aritmia atau gangguan irama jantung)
  • Sebelum dan sesudah operasi besar.
  • Defisiensi nutrisi (malnutrisi)
  • Ulkus lambung dan ulkus peptikum yang tidak terkontrol dengan baik (perlukaan pada saluran pencernaan)
  • Dirawat di rumah sakit karena penyakit tertentu (akut maupun kronik)
  • Sakit dan tidak mampu untuk berpuasa, termasuk diantaranya adalah orang lanjut usia. Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma berkata: “Kakek dan nenek tua yang tidak mampu puasa harus memberi makan setiap harinya seorang miskin.”  (HR Bukhari (4505), lihat Syarhus Sunnah (6/316))

3. Haid dan Nifas.

Ahlul Ilmi telah ijma bahwa orang yang haid dan nifas tidak dihalalkan puasa, keduanya harus berbuka dan mengqadha kalaupun keduanya puasa tidaklah sah, akan datang penjelasannya. Insya Allah.

4. Orang tua.

Diriwayatkan dari Daruquthni (2/207) dan dishahihkannya, dari jalan Manshur dari Mujahid dari Ibnu Abbas, beliau membaca: (yang artinya): “Orang-orang yang ridak mampu puasa harus mengeluarkan fidyah makanan bagi orang miskin.” (QS. Al- Baqarah:184)

Kemudian beliau berkata: “Yakni lelaki tua yang tidak mampu puasa dan kemudi- an berbuka, harus memberi makan seorang miskin setiap harinya ½ sha gandum.

5. Orang hamil dan menyusui

Di antara rahmat Allah yang agung kepada hamba-hamba-Nya yang lemah, Allah memberi rukhshah pada mereka untuk berbuka, dan di antara mereka adalah orang hamil dan menyusui.

Dari Anas bin Malik (Dia adalah Al Ka’bi, bukan Anas bin Malik Al-Anshori, pembantu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , tapi ini adalah seorang pria dari Bani Abdullah bin Ka’ab, pernah tinggal di Bashrah, beliau hanya meriwayat kan hadits ini saja dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam): “Kudanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendatangi kami, akupun mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , aku temukan dia sedang makan pagi, beliau bersabda: “mendekatlah, aku akan ceritakan kepadamu tentang masalah puasa. Sesungguhnyaa Allah Tabaroka wa Ta’ala menggugurkan ½ shalat atas orang musafir, menggugurkan atas orang hamil dan menyusui kewajiban puasa. Demi Allah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengucapkan keduanya atau salah satunya, aduhai lahfa jiwaku kenapa tidak makan makanan nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam .   (HR Tirmidzi (715), Nasai (4/180), Abu Dawud (3408), Ibnu Majah (16687). Sanadnya HASAN sebagimana pernyataan Tirmidzi)