Malang Benar, Jantung Ulfah Harus Ditambal

Sabtu siang pekan lalu di rumah yang sangat sederhana sekali di bilangan jalan Jenderal Sudirman, Payakumbuh, Hasnida Canceria, 39, yang sehari-harinya bekerja sebagai penjahit pakaian duduk termenung. Di pangkuannya terkulai lemas anak perempuannya, Ulfa Rahmawati, 8 bulan, bocah yang belum bisa apa-apa itu divonis dokter mengalami kelainan jantung bawaan.


“Setelah hasil pemeriksaan saya mencoba menanyakan kepada dokter yang memeriksa, bagaimana kondisi jantung anak saya dan apa yang harus diperbuat untuk anak saya agar bisa bertahan. Tapi saya mendapatkan jawaban yang membuat saya tidak bisa tidur,” ujarnya kepada Singgalang.

Awalnya Ulfa diperiksa di Puskesmas, kemudian dokter merujuknya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Adnaan WD Payakumbuh. Selanjutya juga dirujuk ke rumah sakit M. Djamil Padang pada bagian jantung.
Setelah diperiksa  di RS M. Djamil oleh dr. Didik Haryanto, SPA., akhirnya juga dirujuk ke rumah sakit Jantung Harapan Kita di Jakarta. “Anak ibu tidak ada yang bisa untuk dirawat. Jalan satu-satunya adalah dengan cara dioperasi di rumah sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta,” ujar Hasnida menirukan ucapan dokter tersebut.

Kelainan jantung yang diderita Ulfa tersebut adalah tidak mempunyai katup kiri, tidak ada pembatas (sekat) antara darah kotor dan darah bersih, serta kebocoran sebesar 5,4 mm. Jantung yang bocor tersebut harus ditambal.
Pemberian obat-obatan memang bisa membantu memperkecil lubang kebocoran. Namun tidak bisa menutup sempurna dan jalan satu-satunya harus dioperasi guna pemasangan tambal lubang di jantung itu. Menurut Hasnida, dokter memperkirakan, biaya operasi tersebut bisa mencapai Rp75 juta.
“Dengan apa akan kami bayar biaya operasi yang sedemikian banyak, sedang untuk biaya pengobatan ke Padang saja (RS M. Djamil) adalah pemberian dari para tetangga,” ujarnya.

Karena keterbatasan biaya, puteri pasangan Hasnida Canceria dengan Dasniati, 46, yang sehari-harinya hanya bekerja sebagai tukang batu itu, tidak bisa mendapatkan pengobatan secara intensif. Kedua orang tuanya pun hanya bisa pasrah menunggu uluran tangan orang yang mau membantu.
“Kami tak kuasa lagi dan hanya bisa pasrah. Karena, biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan anak saya tidak sedikit. Jangankan untuk biaya berobat ke Jakarta, untuk berobat ke Puskesmas saja uang kami tidak cukup. Kini kami hanya menunggu keajaiban saja serta kalau ada orang-orang yang masih peduli pada kami,” ujarnya lirih.

Berbagai upaya sebenarnya sudah diupayakan oleh keluarga tersebut, mulai dari pengurusan kartu tidak mampu (Jamkesmas) di kekelurahan. Tapi hal itu tidak membuahkan hasil, karena petugas di kelurahan itu tidak bisa mengeluarkan kartu tersebut dengan alasan keluarga tersebut masih mempunyai famili yang mampu di perantauan.

Sekarang keluarga itu hanya bisa pasrah walau berbagai upaya telah dilakukan. Bahkan tetangganya pun ikut prihatin melihat kondisi Ulfa sekarang, yang semakin hari makin memprihatinkan. Sangat besar harapan dari keluarga itu kalau ada pembaca Singgalang atau donatur yang tergerak hatinya untuk membantu beban keluarga tersebut.

http://hariansinggalang.co.id/index.php?mod=detail_berita.php&id=539

———

Subhanalloh… Ya Allah, mudahkanlah urusan mereka dan berilah kesembuhan pada anak mereka serta berilah kesabaran dan ketabahan pada mereka dalam menghadapi cobaan ini.

Bagi ikhwatifillah yg ingin membantu silahkan hubungi:

HARIAN UMUM SINGGALANG ONLINE
Jl.Veteran No.17, Padang, 25116
Telepon: (0751) 25001, 36923, 38338, 893906

Faxs: (0751) 33572

e-mail: redaksi@hariansinggalang.co.id