BANYAK ANAK MENGGANGGU IBADAH?

https://ummuabdirrahman.wordpress.comAnak merupakan karunia yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Tanpa kehadiran seorang anak, kehidupan rumah tangga seakan hambar. Banyak anak adalah hal yang sangat dianjurkan, karena Rasulullah shallallahualaihi wa sallam memerintahkan kepada umatnya untuk menikahi wanita yang berbelas kasih dan subur.

Hal ini berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ma’qil bin Yasar radhiallahuanhu, ia menuturkan, seseorang datang kepada Nabi shallallahualaihi wa sallam lalu mengatakan, ‘aku mendapatkan seorang wanita (dalam satu riwayat lain (disebutkan), ‘memiliki kedudukan dan kecantikan’), tetapi ia tidak dapat melahirkan anak (mandul); apakah aku boleh menikahinya?’ beliau menjawab: ‘tidak.’ kemudian dia datang kepada beliau untuk kedua kalinya, tapi beliau melarangnya. Kemudian dia datang kepada beliau untuk ketiga kalinya, maka beliau bersabda, ‘nikahilah wanita yang berbelas kasih lagi banyak anak, karena aku akan membangga-banggakan jumlah kalian kepada umat-umat yang lain.’”

Namun, banyak wanita yang takut untuk melakukan sunnah yang agung ini. Mereka membatasi kelahiran dengan program KB. Banyak alasan yang mereka kemukakan, takut tidak mampu membiayai anak-anak, takut tak bisa memberi makan atau takut miskin. Bahkan ada yang beralasan bahwa banyak anak akan mengganggu kegiatan seseorang dalam beribadah. Kalau kita perhatikan KB (keluarga berencana, yaitu membatasi jumlah anak, hanya dua saja, atau tiga atau lainnya) adalah suatu kata-kata manis, indah, nan menggiurkan, akan tetapi sebenarnya merupakan makar dan perangkap yang dipropagandakan oleh musuh-musuh Allah, dan kemudian diikuti oleh banyak kaum muslimin yang kurang menyadari akan maksud dan kandungannya. Padahal Allah ta’ala berfirman,

dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepada kamu.” ( al-isra’: 31)

Kita sebagai umat yang beriman kepada Allah ta’ala, Dzat yang Maha Memberi rezeki, hendaknya juga percaya bahwa ketika Allah menciptakan manusia, Allah ta’ala juga telah mempersiapkan untuknya segala yang akan ia dapatkan selama hidup di dunia, sehingga tidaklah ada sesuap makanan yang masuk ke dalam mulutnya, melainkan sebagian dari rezeki yang telah Allah tuliskan untuknya. Allah ta’ala tidak pernah menciptakan satu manusia pun tanpa jatah rezeki, bahkan semenjak kita masih di dalam perut ibu kita masing-masing, Allah telah mengutus seorang malaikat untuk menuliskan jatah rezeki kita.

Sesungguhnya penciptaan setiap orang dari kamu di dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk air mani, kemudian berubah menjadi segumpal darah semasa itu juga (selama 40 hari), kemudian menjadi segumpal daging semasa itu juga (selama 40 hari), kemudian Allah mengutus seorang malaikat, dan ia diperintahkan dengan empat hal, dan dikatakan kepadanya: tuliskanlah amalannya, rezekinya, ajalnya, dan bahagia atau sengsara.” (MuttafaqunAlaih)

Inilah kejadian yang sebenarnya terjadi, yaitu masing-masing anak ketika lahir membawa jatah rezekinya, kita tidak mengurangi jatah rezeki anak kita, begitupun sebaliknya, mereka tidak mengurangi jatah rezeki kita. Bahkan tidaklah ada orang yang mati, melainkan bila jatah rezekinya telah ia dapatkan semuanya dengan sempurna,

Mengganggu ibadah

Namun yang patut kita garis bawahi adalah alasan terakhir yaitu, banyak anak akan mengganggu kegiatan ibadah. Lalu benarkah adanya banyak anak akan menghambat aktivitas seorang muslimah dalam beribadah kepada Allah, sehingga ada sebagian muslimah yang memutuskan melakukan KB agar bisa berkonsentrasi dalam beribadah kepada Allah?

Syaikh Shalih Utsaimin ketika ditanya: ada seseorang yang sudah memiliki empat orang anak, kemudian terbetik dalam pikirannya untuk ber-KB karena sudah merasa cukup dengan anak yang dimiliki dalam rangka agar lebih bisa mengkonsentrasikan diri dalam beribadah. Dia menganggap banyak anak itu melalaikan beribadah kepada Allah. Apakah orang tersebut berdosa atau tidak?

Beliau menjawab, ini merupakan pandangan picik karena mendidik anak itu termasuk menaati Allah. Anak yang banyak akan memberi manfaat pada saat kita masih hidup ataupun setelah mati. Sebagaimana sabda Nabi shallallahualaihi wa sallam,

Jika seorang manusia meninggal maka seluruh amal kebaikannya terputus kecuali tiga perkara, sedekah yang pahalanya terus mengalir atau ilmu yang dimanfaatkan atau anak salih yang mendoakan kebaikan untuknya.’ (riwayat muslim)

Selain itu memperbanyak anak berarti memperbanyak jumlah umat. Sedangkan Nabi mendorong umatnya supaya menikah dengan wanita yang memiliki kasih sayang yang besar terhadap suaminya lagi potensial untuk memiliki banyak keturunan. Nabi mendorong hal tersebut agar umatnya memiliki banyak anak. Beliau juga menuturkan bahwa beliau akan membanggakan jumlah umatnya yang banyak kepada para nabi yang lain pada hari kiamat. Beliau akan bersaing dengan para nabi dalam hal jumlah umat.

Orang yang disebutkan dalam pertanyaan di atas hendaknya meninggalkan pandangan tersebut lalu memperbanyak anak sehingga rezekinya makin banyak dan makin banyak pula orang mendapat hidayah melalui perantaranya. Sehingga anak-anaknya menjadi simpanan untuk dirinya ketika ia masih hidup ataupun setelah mati. Terwujud pula harapan Nabi untuk merasa bangga dengan jumlah umat yang banyak pada hari kiamat.

Sumber: Fatawa liz zaujain kepada pasangan suami istri, oleh masyayikh, media hidayah, jogjakarta, 1422h.