TAUHID PRIORITAS UTAMA

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Judul asli

At Tauhid awwalan ya Du’atul Islam

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Semoga shalawat dan salam tetap tercurah atas nabi Muhammad, keluarga, sahabat dan para pengikutnya. Meniti jalan Salafush Shalih merupakan keharusan bagi setiap muslim, sebagaimana firman Allah:

وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ

“Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)”. [Al-An’am : 153]

Dalam tatanan realitas kehidupan, banyak ditemukan kejanggalan beragama di kalangan umat Islam. Mereka semakin jauh dari nilai ajaran Islam sehingga mereka hidup dalam kebingungan dan kebimbangan. Lebih bingung lagi pada waktu mereka mencoba mencari solusi problem agama dan kehidupan secara salah dengan mencoba menerapkan pemikiran dan ajaran jahiliyah. Maka akibatnya muncul berbagai macam sekte dan aliran sesat dengan menisbatkan ajaran mereka kepada Al-Qur ân dan As-Sunnah. Sehingga kondisi mereka tidak jauh berbeda dengan orang musyrik seperti yang dituturkan dalam firman Allah:

وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ -. مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعاً كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”. [Ar-Ruum : 31-32]

Dalam tataran kehidupan ideal jarang kita dapatkan seorang muslim merujukkan permasalahan yang dia hadapi kepada pemahaman Salafush Shalih, maka banyak kejanggalan prilaku dan pola berfikir dalam pribadi mereka dan bahkan terkadang berseberangan dengan aqidah Salafush Shalih. Padahal tidak mungkin perkara umat menjadi baik tanpa merujuk kepada generasi terbaik, terlebih dalam masalah aqidah dan agama. Kita semua menyaksikan bahwa umat Islam hidup dalam keadaan mundur dan terpuruk dalam seluruh sisi kehidupan dan bahkan sampai pada titik nadir. Tetapi kondisi buruk itu tidak mungkin pulih dan umat kembali jaya kecuali dengan membenahi aqidah dan memurnikan tauhid, sebagiamana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Jika kalian sibuk dengan perdagangan inah dan beternak hewan sapi serta bercocok tanam lalu meninggalkan jihad, maka Allah akan menguasakan atas kalian kehinaan dan tidak akan bisa terlepas dari (kehinaan) hingga kembali kepada agama kalian”. [Hadits Riwayat Abu Dawud]

Sehingga tidak ada solusi terbaik kecuali mengkaji ajaran Islam secara komprehensif dengan memprioritaskan tauhid tanpa harus menafikan cabang ilmu lain. Jika kita memperhatikan umat secara seksama, ternyata pengetahuan mereka tentang tauhid sangat rendah bahkan kebanyakan mereka belum memahami dengan baik makna dan konsekuensi kalimah syahadah La Ilaaha Illallah. Banyak diantara mereka melakukan pelanggaran dan pembatalan sayahadah tanpa ada beban, baik syirik, bid’ah maupun khurafat, barang yang paling mudah kita temukan apalagi transaksi kesyirikan dan kebid’ahan sangat marak di kalangan kaum muslimin. Bagi setiap kaum muslimin khususnya para da’i sebaiknya menyimak buku kecil ini agar bisa menentukan skala prioritas dalam berdakwah dan menyebarkan Islam sehingga setiap kaum muslimin akan menjadikan tauhid suatu yang paling urgen dan fundamental. Hanya dengan merealisasikan makna tauhid, umat Islam bisa bersatu dan kembali mengalami kejayaan. Bagaimana umat Islam bisa bersatu jika mereka masih berselisih dalam masalah ideologi dan pemahaman aqidah. Maka menyatukan aqidah umat jauh lebih penting daripada menyatukan corak umat, meluruskan tauhid lebih urgen daripada meluruskan barisan dan merealisasikan aqidah yang kokoh dan bersih dari syirik, bida’ah dan khurafat lebih utama di atas segala bentuk kekuatan.

Semoga buku kecil ini mampu menumbuhkan kesadaran kita untuk kembali kepada manhaj dan aqidah yang benar dan sebagai koreksi total terhadap kesalahan masa lalu kita semua.

Penerjemah
Fariq Gasim Anuz