Desember 2008


Biografi
Syaikh Muhammad Nahiruddin Al Albani

Nama beliau adalah Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin bin Nuh al-Albani. Dilahirkan pada tahun 1333 H di kota Ashqodar ibu kota Albania yang lampau. Beliau dibesarkan di tengah keluarga yang tak berpunya, lantaran kecintaan terhadap ilmu dan ahli ilmu.

Ayah al Albani yaitu Al Haj Nuh adalah lulusan lembaga pendidikan ilmu-ilmu syari’at di ibukota negara dinasti Utsmaniyah (kini Istambul), yang ketika Raja Ahmad Zagho naik tahta di Albania dan mengubah sistem pemerintahan menjadi pemerintah sekuler, maka Syeikh Nuh amat mengkhawatirkan dirinya dan diri keluarganya. Akhirnya beliau memutuskan untuk berhijrah ke Syam dalam rangka menyelamatkan agamanya dan karena takut terkena fitnah. Beliau sekeluargapun menuju Damaskus.

Setiba di Damaskus, Syeikh al-Albani kecil mulai aktif mempelajari bahasa arab. Beliau masuk sekolah pada madrasah yang dikelola oleh Jum’iyah al-Is’af al-Khairiyah. Beliau terus belajar di sekolah tersebut tersebut hingga kelas terakhir tingkat Ibtida’iyah. Selanjutnya beliau meneruskan belajarnya langsung kepada para Syeikh. Beliau mempelajari al-Qur’an dari ayahnya sampai selesai, disamping itu mempelajari pula sebagian fiqih madzab Hanafi dari ayahnya. Syeikh al-Albani juga mempelajari keterampilan memperbaiki jam dari ayahnya sampai mahir betul, sehingga beliau menjadi seorang ahli yang mahsyur. Ketrampilan ini kemudian menjadi salah satu mata pencahariannya.

Pada umur 20 tahun, pemuda al-Albani ini mulai mengkonsentrasi diri pada ilmu hadits lantaran terkesan dengan pembahasan-pembahsan yang ada dalam majalah al-Manar, sebuah majalah yang diterbitkan oleh Syeikh Muhammad Rasyid Ridha. Kegiatan pertama di bidang ini ialah menyalin sebuah kitab berjudul “al-Mughni ‘an Hamli al-Asfar fi Takhrij ma fi al-Ishabah min al-Akhbar”. Sebuah kitab karya al-Iraqi, berupa takhrij terhadap hadits-hadits yang terdapat pada Ihya’ Ulumuddin al-Ghazali.

Kegiatan Syeikh al-Albani dalam bidang hadits ini ditentang oleh ayahnya seraya berkomentar. “Sesungguhnya ilmu hadits adalah pekerjaan orang-orang pailit (bangkrut)”.

Namun Syeikh al-Albani justru semakin cinta terhadap dunia hadits. Pada perkembangan berikutnya, Syeikh al-Albani tidak memiliki cukup uang untuk membeli kitab-kitab. Karenanya, beliau memanfaatkan Perpustakaan adh-Dhahiriyah di sana (Damaskus). Di samping juga meminjam buku-buku dari beberapa perpustakaan khusus. Begitulah, hadits menjadi kesibukan rutinnya, sampai-sampai beliau menutup kios reparasi jamnya. Beliau lebih betah berlama-lama dalam perpustakaan adh-Dhahiriyah, sehingga setiap harinya mencapai 12 jam. Tidak pernah istirahat mentelaah kitab-kitab hadits, kecuali jika waktu sholat tiba. Untuk makannya, seringkali hanya sedikit makanan yang dibawanya ke perpustakaan.

Akhirnya kepala kantor perpustakaan memberikan sebuah ruangan khusus di perpustakaan untuk beliau. Bahkan kemudiaan beliau diberi wewenang untuk membawa kunci perpustakaan. Dengan demikian, beliau menjadi leluasa dan terbiasa datang sebelum yang lainnya datang. Begitu pula pulangnya ketika orang lain pulang pada waktu dhuhur, beliau justru pulang setelah sholat isya. Hal ini dijalaninya sampai bertahun-tahun.

Pengalaman Penjara
Syeikh al-Albani pernah dipenjara dua kali. Kali pertama selama satu bulan dan kali kedua selama enam bulan. Itu tidak lain karena gigihnya beliau berdakwah kepada sunnah dan memerangi bid’ah sehingga orangorang yang dengki kepadanya menebarkan fitnah.

Beberapa Tugas yang Pernah Diemban
Syeikh al-Albani Beliau pernah mengajar di Jami’ah Islamiyah (Universitas Islam Madinah) selama tiga tahun, sejak tahun 1381-1383 H, mengajar tentang hadits dan ilmu-ilmu hadits. Setelah itu beliau pindah ke Yordania. Pada tahun 1388 H, Departemen Pendidikan meminta kepada Syeikh al-Albani untuk menjadi ketua jurusan Dirasah Islamiyah pada Fakultas Pasca Sarjana di sebuah Perguruan Tinggi di kerajaan Yordania.

Tetapi situasi dan kondisi saat itu tidak memungkinkan beliau memenuhi permintaan itu. Pada tahun 1395 H hingga 1398 H beliau kembali ke Madinah untuk bertugas sebagai anggota Majelis Tinggi Jam’iyah Islamiyah di sana. Mandapat penghargaan tertinggi dari kerajaan Saudi Arabia berupa King Faisal Fundation tanggal 14 Dzulkaidah 1419 H.

Beberapa Karya Beliau
Karya-karya beliau amat banyak, diantaranya ada yang sudah dicetak, ada yang masih berupa manuskrip dan ada yang mafqud (hilang), semua berjumlah 218 judul. Beberapa Contoh Karya Beliau adalah :
· Adabuz-Zifaf fi As-Sunnah al-Muthahharah
· Al-Ajwibah an-Nafi’ah ‘ala as’ilah masjid al-Jami’ah
· Silisilah al-Ahadits ash Shahihah
· Silisilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wal maudhu’ah
· At-Tawasul wa anwa’uhu
· Ahkam Al-Jana’iz wabida’uha
Di samping itu, beliau juga memiliki kaset ceramah, kaset-kaset bantahan terhadap berbagai pemikiran sesat dan kaset-kaset berisi jawaban-jawaban tentang pelbagai masalah yang bermanfaat.

Selanjutnya Syeikh al-Albani berwasiat agar perpustakaan pribadinya, baik berupa buku-buku yang sudah dicetak, buku-buku foto copyan, manuskrip-manuskrip (yang ditulis oleh beliau sendiri ataupun orang lain) semuanya diserahkan ke perpustakaan Jami’ah tersebut dalam kaitannya dengan dakwah menuju al-Kitab was Sunnah, sesuai dengan manhaj salafush Shalih (sahabat nabi radhiyallahu anhum), pada saat beliau menjadi pengajar disana.

Wafatnya
Beliau wafat pada hari Jum’at malam Sabtu tanggal 21 Jumada Tsaniyah 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999 di Yoradania. Rahimallah asy-Syaikh al-Albani rahmatan wasi’ah wa jazahullahu’an al-Islam wal muslimiina khaira wa adkhalahu fi an-Na’im al-Muqim.

Diambil dari: http://al-madina.s5.com/Kisah/Biografi_Albani.htm; dinukil dari
salafyoon-online

Zainab binti Khuzaimah (wafat 1 H)

Nasab dan Masa Pertumbuhannya

Nama lengkap Zainab adalah Zainab binti Khuzaimah bin Haris bin Abdillah bin Amru bin Abdi Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’shaah al-Hilaliyah. Ibunya bemama Hindun binti Auf bin Harits bin Hamathah.

Berdasarkan asal-usul keturunannya, dia termasuk keluarga yang dihormati dan disegani. Tanggal lahirnya tidak diketahui dengan pasti, namun ada riwayat yang rnenyebutkan bahwa dia lahir sebelum tahun ketiga belas kenabian. Sebelum memeluk Islam dia sudah dikenal dengan gelar Ummul Masakin (ibu orang-orang miskin) sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab Thabaqat ibnu Saad bahwa Zainab binti Khuzaimali bin Haris bin Abdillah bin Amru bin Abdi Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’shaah al-Hilaliyah adalah Ummul-Masakin. Gclar tersebut disandangnya sejak masa jahiliah. Ath-Thabary, dalam kitab As-Samthus-Samin fi Manaqibi Ummahatil Mu’minin pun di terangkan bahwa Rasulullah. menikahinya sebelum beliau menikah dengan Maimunah, dan ketika itu dia sudah dikenal dengan sebutan Ummul-Masakin sejak zaman jahiliah. Berdasarkan hal itu dapat disimpulkan bahwa Zainab binti Khuzaimah terkenal dengan sifat kemurah-hatiannya, kedermawanannya, dan sifat santunnya terhadap orang-orang miskin yang dia utamakan daripada kepada dirinya sendiri. Sifat tersebut sudah tertanarn dalam dirinya sejak memeluk Islam walaupun pada saat itu dia belum mengetahui bahwa orang-orang yang baik, penyantun, dan penderma akan memperoleh pahala di sisi Allah.

Keislaman dan Pernikahannya

Zainab binti Khuzaimah. termasuk kelompok orang yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan wanita. Yang mendorongnya masuk Islam adalah akal dan pikirannya yang baik, menolak syirik dan penyembahan berhala dan selalu menjauhkan diri dari perbuatan jahiliah.

Para perawi berbeda pendapat tentang nama-nama suami pertama dan kedua sebelum dia menikah dengan Rasulullah. Sebagian perawi mengatakan bahwa suami pertama Zainab adalah Thufail bin Harits bin Abdil-Muththalib, yang kemudian menceraikannya. Dia menikah lagi dengan Ubaidah bin Harits, namun dia terbunuh pada Perang Badar atau Perang Uhud. Sebagian perawi mengatakan bahwa suami keduanya adalah Abdullah bin Jahsy. Sebenarnya masih banyak perawi yang mengemukakan pendapat yang berbeda-beda. Akan tetapi, dari berbagai pendapat itu, pendapat yang paling kuat adalah riwayat yang mengatakan bahwa suami pertamanya adalah Thufail bin Harits bin Abdil-Muththalib. Karena Zainab tidak dapat melahirkan (mandul), Thufail menceraikannya ketika mereka hijrah ke Madinah. Untuk mernuliakan Zainab, Ubaidah bin Harits (saudara laki-laki Thufail) menikahi Zainab. Sebagaimana kita ketahui, Ubaidah bin Harits adalah salah seorang prajurit penunggang kuda yang paling perkasa setelah Hamzah bin Abdul-Muththalib dan Ali bin Abi Thalib. Mereka bertiga ikut melawan orang-orang Quraisy dalam Perang Badar, dan akhirnya Ubaidah mati syahid dalam perang tersebut.

Setelah Ubaidah wafat, tidak ada riwayat yang menjelaskan tentang kehidupannya hingga Rasulullah . menikahinya. Rasulullah menikahi Zainab karena beliau ingin melindungi dan meringankan beban kehidupan yang dialaminya. Hati beliau menjadi luluh melihat Zainab hidup menjanda, sementara sejak kecil dia sudah dikenal dengan kelemah- lembutannya terhadap orang-orang miskin. Scbagai Rasul yang membawa rahmat bagi alam semesta, beliau rela mendahulukan kepentingan kaum muslimin, termasuk kepentingan Zainab. Beiau senantiasa memohon kepada Allah agar hidup miskin dan mati dalam keadaan miskin dan dikumpulkan di Padang Mahsyar bersama orangorang miskin.

Meskipun Nabi. mengingkari beberapa nama atau julukan yang dikenal pada zaman jahiliah, tetapi beiau tidak mengingkari julukan “ummul-masakin” yang disandang oleh Zainab binti Khuzaimah.

Menjadi Ummul-Mukminin

Tidak diketahui dengan pasti masuknya Zainab binti Khuzaimah ke dalam rumah tangga Nabi ., apakah sebelum Perang Uhud atau sesudahnya. Yang jelas, Rasulullah . menikahinya karena kasih sayang terhadap umamya walaupun wajah Zainab tidak begitu cantik dan tidak seorang pun dari kalangan sahabat yang bersedia menikahinya. Tentang lamanya Zainab berada dalam kehidupan rumah tangga Rasulullah pun banyak tendapat perbedaan. Salah satu pendapat mengatakan bahwa Zainab memasuki rumah tangga Rasulullah selama tiga bulan, dan pendapat lain delapan bulan. Akan tetapi, yang pasti, prosesnya sangat singkat kanena Zainab meninggal semasa Rasulullah hidup. Di dalam kitab sirah pun tidak dijelaskan penyebab kematiannya. Zainab meninggal pada usia relatif muda, kurang dari tiga puluh tahun, dan Rasulullah yang menyalatinya. Allahu A’lam.

Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai Sayyidah Zainab binti Khuzaimah. dan semoga Allah memberinya tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.

Sumber: buku Dzaujatur-Rasulullah , karya Amru Yusuf, Penerbit Darus-Sa’abu, Riyadh

Hidupnya bersama RasuluLlah, hanya singkat. Antara 4 sampai 8 bulan. Zainab terkenal dengan julukan Ummul Masaakiin, karena kedermawanannya terhadap kaum miskin. Zainab meninggal, ketika Rasulullah masih hidup. Dan Rasulullah sendiri menshalati jenazahnya. Zainablah yang pertama kali dimakamkan di Baqi.

flower-rose

Jilbab wanita muslimah

silahkan download artikelnya disini

Assalaamu’alaikum warahmatullohi wa barookatuhu..

TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM. Mohon maaf lahir bathin kami ucapkan kepada segenap umat Islam diseluruh dunia.

Semoga Rahmat dan Hidayah Allah Ta’ala selalu bersama kita, amin…

Mengintip Tradisi Manjalang Mintuo, “Dulu Berbaju Kurung, Kini Baju Buntung”

Padang ekspress. Sabtu, 06 Desember 2008

Setiap hari baik bulan baik, selalu diiringi dengan tradisi manjalang mintuo di Ranah Minang. Begitu pun di Lebaran Haji. Para menantu, bahkan calon menantu menyiapkan segala sesuatunya untuk dibawa ke rumah mertua atau calon mertua.

Tapi itu dulu, kini walau masih kental terasa, namun sudah terjadi pergeseran. Jika dulu para menantu “wajib” berbaju kurung yang rapi kini berbaju ketat dan buntung pun langsir ke rumah mertua. Jumat (5/12), siang kemarin, nuansa hari Hari Raya Idul Adha mulai kental terasa. Aktivitas masyarakat Kota Padang khususnya kaum ibu, terlihat makin sibuk.

Imar, 30, salah seorang warga Pengambiran tengah sibuk mempersiapkan bawaan yang akan dibawa ke rumah calon mertua saat Lebaran Haji nanti. Wanita yang mengaku telah bertunangan dengan seorang pemuda Padang sebulan lalu itu berencana membawa kue bolu, agar-agar, dan soto buatan sendiri ke rumah calon mertua.

“Walaupun belum jadi menantu, kita harus pandai babaso dengan calon mertua, dengan begitu mereka juga akan tahu kalau calon mantu hebat bikin agar-agar,” ujar Imar yang mengaku akan melangsungkan pernikahan dua minggu setelah Lebaran Haji ini.

Lain Imar, lain pula Karin. Wanita yang sudah punya anak satu ini mengaku tidak mempersiapkan buah tangan untuk dibawa ke rumah mertuanya saat berkunjung di Lebaran Haji nanti. Alasan Karin, selain dirinya tidak sempat membuat makanan lantaran kesibukan bekerja di kantor, mertuanya juga tidak mempersoalkan dia membawa makanan atau tidak.

“Agiah sajo pitih saratuih ribu, alah tu mah (kasih duit Rp100 ribu, itu saja),” kata Karin enteng. Cici, warga Kuranji Padang mengaku selalu berkunjung ke rumah mertunya di Lebaran Haji. Meski tidak membawa lemang, sebagaimana tradisi di daerah tersebut, paling tidak wanita bertubuh gemuk ini selalu membawa kue tart atau agar-agar.

“Kalau mambaok lamang lamo mambueknyo, repot awak, ancak bali sajo kue, murah meriah,” katanya. Tina, nenek empat cucu ini mengaku selalu dijalang (dikunjungi, red) menantunya tiap hari baik bulan baik. “Kalau menjelang puasa mantu saya rajin bawa limau, kue-kue dan lamang, Idul Adha juga begitu, tapi tidak pakai limau dan lamang, tapi ada bawa daging, “ ujarnya.

Menurut Nur Ainas Abizar, ketua Bundo Kanduang Sumbar, manjalang mintuo tidak hanya pada hari raya saja, pada dasarnya ini merupakan salah satu rangkaian proses perkawinan. Diawali dengan sebuah perencanaan perjodohan, setelah jelas kesepakatan selanjutnya pihak wanita datang ke pihak keluarga laki-laki, dan dikenal dengan istilah maresek.

Pihak laki-laki diberi jangka waktu dua hingga tiga minggu untuk memberi jawaban. Ketika tiba jangka waktu yang sudah disepakati, pihak perempuan datang lagi kepada pihak laki-laki untuk meminta jawaban. Kemudian dilanjutkan dengan proses meminang, baru ditetapkanlah tanggal baralek sesuai kesepakatan dua belah pihak.

Tenggang waktu sebelum baralek, keluarga dari pihak perempuan datang ke keluarga pihak laki-laki, yang dikenal dengan manjalang mintuo. Sebab, dalam budaya Minangkabau yang menikah memang laki-laki dan perempuan, tapi yang kawin adalah keluarga.

Tradisi Manjalang Mintuo dengan membawa lamang saat ini sudah mulai ditinggalkan di Ranah Minang. Tampak, seorang ibu membuat lamang di kawasan Kota Padang.

Acara tersebut akan semakin memperat silaturahim antara keluarga besar mempelai wanita dengan keluarga besar pihak laki-laki. Buah tangan pada saat acara ini, tergantung pada kebiasaan salingka nagari. Antaran bisa berupa nasi kuning, panggang ayam, bolu, puding, sipuluik, ikan bakar, pangek padeh, pergedel dan buah-buahan. Jumlah antaran biasanya ganjil, mulai dari sembilan, sebelas dan tiga belas. “Angka ganjil menggambarkan ibadah yang jumlahnya ganjil, seperti shalat dilakukan 5 waktu, aqiqah pada hari ke 7,” ujar wanita yang akrab dipanggil Bundo.

Selanjutnya, menurut Bundo lagi, si calon menantu menginap di tempat mertua atau ‘japuik malam.’ Ketika akan pulang si mertua balas memberikan buah tangan seperti baju, selendang dan lain-lain sesuai adat salingka nagari. “Tapuak alang babaleh, tapuak sirih bajawak.”

Setelah resmi menjadi menantu, biasanya pada saat menjelang puasa, dua hari raya si menantu rutin datang manjalang dengan berbagai bawaan. “Tradisi ini membuktikan bahwa adat di Minang menjunjung tinggi silaturahim dan keakraban,” ujar Bundo.

Musdarizal, pakar budayawan atau yang lebih akrab dipanggil Makatik, menyebutkan di ranah Minang dewasa ini banyak terjadi pergeseran budaya. Manjalang mintuo misalnya. Seharusnya, kegiatan ini sampai beranak tiga, masih dilakukan secara baik. Sang menantu datang silaturahim ke tempat mertua, tidak hanya pada saat hari raya saja. Manjalang mintuo memiliki konsep lebih luas.

Semestinya, kalau bisa sekali sebulan menantu datang ke rumah mertua. Hal ini dimaksudkan agar silaturahim dengan mertua semakin akrab. “Mertua akan takana jo minantu, dan ini merupakan nilai plus bagi sang menantu,” ujar Makatik.

Menurutnya lagi, jika dibandingkan dulu, saat ini banyak sekali kaedah-kaedah manjalang yang tidak diketahui perempuan yang berstatus menantu orang Minang. Contohnya, ketika menjenguk mertua sedang sakit, si menantu berpakaian yang tidak senonoh. Celana ketat, baju warna warni, padahal sangat tidak sesuai dengan momen.

Bawaan yang dibawa pada saat manjalang pun harus diperhatikan bagaimana cara membawanya. “Kalau adat Minang, makanan yang dibawa untuk mertua, tidak boleh dijinjing, melainkan dipangku. Sebab, yang dijinjing biasanya makanan untuk ikan dan ayam, apakah mertua disamakan dengan binatang,” jelas makacik.

Pergeseran ini menurutnya, terjadi karena si menantu (perempuan) jarang mendapatkan pemahaman dari ninik mamak, tentang tata cara bergaul dengan mertua. (rahmi amalia)

http://www.padangekspres.co.id/content/view/24910/1/

Semoga kaum wanita (muslimah) kembali kepada hakikatnya sebagai wanita, baik dalam berpakaian, pekerjaan, pergaulan dan lain-lain. Dan hal ini bisa terwujud dengan dimulai dari sebuah keluarga yang menerapkan nilai-nilai Islam dalam kesehariannya.

Dadar Gulung

Bahan kulit:
2 btr telur
250 gr tepung terigu
500 ml santan
1/2 sdt garam
2 tetes pewarna hijau
minyak goreng untuk polesan

Bahan isi:
1/2 btr kelapa parut
150 gr gula jawa sisir halus
2 lbr daun pandan
100 ml air

Cara membuat:
1. Dadar:
taruh tepung dalam wadah, beri telur dan garam, aduk sambil tuangi santan sedikit demi sedikit hingga santan habis dan menjadi adonan encer. Beri pewarna hijau, aduk rata.
2. Siapkan wajan dadar. Olesi dengan minyak. Tuang 2 sdm adonan, bentuk dadar tipis, angkat, sisihkan.
3. Ambil selembar kulit. Letakkan 1 sdm adonan isi. Lipat dan gulung seperti amplop.
4. Isi: campur semua bahan dalam wajan biasa, masak dengan api kecil hingga menjadi adonan unti.

Selamat mencoba… 🙂

Hati-Hati di Saat Hamil !

Disaat hamil, tentunya dibutuhkan ekstra hati-hati dalam menjaga kehamilan. Tahukah Anda, apa saja yang bisa menguras energi Anda? Tips berikut mungkin akan sangat berguna bagi Anda. Selamat mencoba!

1. Berada terus menerus dirumah.Jika setiap hari Anda nyaris tidak pernah keluar rumah, berarti Anda tidak akan mendapatkan sinar marahari dalam jumlah cukup. Hal ini akan menyebabkan terjadinya penurunan hormon otak, yaitu melatonin, sehingga mengakibatkan Anda kekurangan energi. Dari itu, luangkan waktu untuk keluar rumah setiap hari, tentunya jika cuaca memungkinkan.

2. Barang-barang elektronik. Pesawat televisi, video, microwave dan komputer dapat mengurangi energi Anda. Mengapa demikian? Karena barang-barang elektronik ini dapat menyebabkan polusi/pencemaran elektromagnetik. Kurangi efek buruk ini dengan hanya menyetel disaat tertentu saja, beri jarak 1 meter dari layar komputer dan gunakan microwave seperlunya saja. Jangan menaruh pesawat televisi dalam ruang tidur, karena efek pencemaran yang ditimbulkannya akan mengganggu kualitas tidur Anda.

3. Junk food. Anda tentunya sudah mengetahui bahwa mengkonsumsi junk food secara berlebihan tidak baik bagi kesehatan, karena makanan tersebut dapat membuat tubuh cepat lelah? Memang benar! Junk food menyebabkan penumpukan zat-zat racun dalam tubuh jika kita sering memakannya. Apalagi jika dalam kondisi hamil. Banyak alasan bagi anda untuk memilih makanan yang lebih sehat. Hindari minuman beralkohol, sereal cepat saji, atau daging yang diawetkan. Mandi sauna konon bermanfaat untuk membersihkan tubuh dari zat-zat racun yang melekat pada lemak tubuh, kareanya sebelum hamil Anda disarankan untuk melakukannya.

4. Cemas dan stress. Stres dan kecemasan selagi hamil merupakan penyebab timbulnya kelelahan fisik. Apapun penyebabnya, yang jelas Anda perlu segera mengatasinya agar tidak kehilangan tenaga selama hamil dan sesudah melahirkan. Buatlah daftar kegiatan Anda, sesuaikan dengan kepentingannya, lalu beri tanda pada kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukannya. Duduklah dengan rileks sambil memejamkan mata Anda, ambil nafas dalam-dalam dan hembuskan secara perlahan. Lakukan beberapa menit setiap hari. Luangkan waktu dengan pasangan anda untuk duduk tenang dan membicarakan segala masalah pribadi.

5. Perabotan rumah tangga. Apakah mebel atau perabotan rumah tangga Anda yang lain terbuat atau dilapisi plastik? Zat-zat kimia yang terkandung didalamnya dapat menimbulkan pencemaran udara dan membuat tubuh menjadi lebih cepat lelah. Udara bersih dan ventilasi udara yang baik di dalam rumah dapat mengurangi efek negatif akibat penimbunan zat-zat polutan tersebut, karenanya pikirkanlah kemungkinan untuk mengganti perabotan rumah tangga yang berbau plastik dengan bahan alami (kayu atau rotan).

Sumber : Diah Ekowati

PT. Onklik Milenia Netmedia

Laman Berikutnya »