Putriku

[1]. Yang mana kelahirannya sangat ditunggu-tunggu dan diharapkan oleh keluarga suamiku, karena mereka tidak memiliki anak perempuan. Jadi waktu mereka tahu anak kami lahir perempuan, langsung saja bapak suamiku bilang “kasih aja namanya ‘Aisyah!”. Jadilah akhirnya nama itu pilihan kami, setelah sekian hari ragu akan siapa namanya. Soalnya aku sejak hamil ingin namanya “SALWA”, tapi ‘Aisyah juga ku suka, makanya aku putuskan pada suami kalau namanya ‘Aisyah saja sesuai permintaan orang tua.Pada hari Senin, 23 Juni 2008 yang lalu, aku melahirkan anak keduaku yang kami beri nama ‘AISYAH Muhammad Taufiq

Adapun proses kelahirannya sangat berbeda dengan abangnya, ‘Abdurrahman. Kelahiran ‘Aisyah sangat berat menurutku. Tapi sama-sama lebih cepat dari perkiraan dokter. ‘Aisyah ditaksir dokter akan lahir sekitar awal Juli 2008.

Awalnya sejak sore Ahad aku sudah merasakan sakit yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Tapi karena aku ga yakin, apalagi kata dokter seminggu yang lalu akan lahir awal Juli, sehingga aku abaikan rasa sakit itu. Dan aku juga bingung, kok kayak mau melahirkan anak pertama aja gitu, ga tahu tanda-tandanya J

Pada pagi hari senin, aku tetap aja beres-beres rumah, maklum kami baru pindah 1 minggu jadi masih ada yang berantakan. Walau suami sudah melarang, tapi aku tetap aja keras kepala mau beresin, hitung-hitung olah raga kataku, biar lancar melahirkan nanti, kataku waktu itu.

Lagian aku juga kasihan sama suami, dia sendirian ngurus semuanya, masak, nyuci piring, pakaian, bersihin rumah, ngurus Abdurrahman, pokoknya sudah jadi bapak rumah tangga. Jadi ga ada salahnya aku bantu dia dikit-dikit. Ntar kalau sudah lahiran juga ga bisa ngapa-ngapain lagi, pikirku.

Jadilah aku beres-beres waktu itu, kalau pas sakit aku istirahat, habis itu lanjut lagi. Waktu sholat zuhur aku makin kesakitan, tapi ga ada tanda-tanda mau melahirkan waktu itu, seperti keluar darah atau air ketuban. Jadi aku tetap berfikir ntar aja, mungkin ini kontraksi semu.

Pas sholat asar aku makin ga tahan, air mata mulai meleleh. Makan juga ga sanggup, dikit-dikit sakit, bentar-bentar sakit, aduh mak… sudah waktunya apa ya… Kan Dokter bilang awal Juli, gimana sih..

Akhirnya aku tetap makan sedikit disuapi suami. Setelah itu aku sholat Asar sambil duduk, karena ga kuat lagi berdiri, aku tetap maksain sholat karena takut meninggalkannya, kan sholat wajib. Sambil sholat air mata terus meleleh, Ya Allah… berikanlah kekuatan dalam menghadapi semua ini, selamatkan anakku, mudahkanlah ya Rabbiii…….

Akhirnya aku pergi kekamar tamu, duduk sambil mencatat perkisaran kontraksi, rupanya sudah 1×8 menit, 1×5 menit sampai akhirnya 1×2 menit. Ya Rabbii…bukannya orang sakit sekali 10 menit aja sudah kabur ke rumah sakit, aku malah masih sendirian. Langsung kuminta suami memanggil Bidan Zainab, bidan yang sama dalam membantuku waktu melahirkan Abdurrahman.

Dia lagsung menelpon Bidan, ga diangkat. Telpon adiknya, pulsa habis. Duh cobaan beratnya…

Segera kabur ke counter beli pulsa, telpon adiknya sambil jalan ke rumah Bidan, Alhamdulillah ada dan siap membantu urusan luar negri. Pas sampai dirumah Bidan, Ya Allah..bidannya ga ada, lagi pergi ziarah ke rumah saudaranya yang berjarak sekitar 15 menit perjalanan dengan tuk-tuk[2].

Suamiku panik, segera telpon Dokter Muna, juga ga ada di kliniknya, rumahnya juga ga tahu. Segera meminta anak laki-laki Bidan Zainab untuk menjemputnya. Rupanya Bidan Zainab pergi ke rumah kami yang lama (karena dia ga tahu kalau kami sudah pindah). Setelah hampir 1 jam barulah beliau datang.

Sedangkan aku sejak ditinggal suami, mulai jalan bolak-balik (maksain diri), bentangin perlak dan kain buat alas melahirkan, siapin baju si calon bayi, biar mudah melahirkan pikirku lagi waktu itu, tapi yang ada pas melahirkan malah ga ada tenaga.. hik..hik… Untung saja Abdurrahman tidur, jadi ga ngeliat Ummunya yang lagi kesakitan sendirian ditinggal Abunya.

Sampai-sampai saking lamanya menunggu aku berfikir akankah akan melahirkan sendirian ditemani anak yang lagi tidur? Ya Allah..jangan sampai… Sambil marah-marah aku telpon suami, ga diangkat-angkat, aduuhhh…tega banget ninggalin lama-lama, mang rumah bidannya di Indo apa pikirku (karena aku ga tahu kalau dia juga panik bidan ga ada dirumah).

Datang-datang suamiku langsung aku marahin, kemana aja sih bang,,, ga tahu orang mau …. apa??? Aku sewot, padahal lagi sakit… (Maafin aku ya Bang, habis sakit banget.. Hik..hik..)

Setelah Bidan datang dia langsung minta aku untuk melahirkan, masak sih, akukan belum dipasangi infus dan proses pemeriksaan. Dia minta agar menjemput tas peralatannya di rumah yang tidak dia bawa karena langsung ke rumahku. Setelah peralatan tiba, dia langsung memeriksaku dan setengah berteriak memanggil suamiku dan marah “Kok ga bilang dari seminggu yang lalu kalau hampir melahirkan, supaya saya ga pergi-pergi jauh” katanya.

“Yalla ya binti..”[3] Dia mulai menyemangatiku. “Dilwakti ya abla zainab?”[4] Kataku sok bego. “Aiwa, dilwakti”[5]. Karena infus belum tiba, aku malah disuapi gula untuk tambah tenaga. Aduh, nambah mual aja (walau waktu hamil aku doyan makan gula, tapi sekarang ga waktunya deh buat nyantap gula, sakiiittt).

Beberapa saat kemudian Nurman datang bawa infus dan obat-obatan lainnya. Aku langsung disuntik dan dipasangi infus, si bayi tetap aja nendang-nendang ga sabaran pengen ketemu Abu, ummu dan akhunya.

Setelah sekian kali berusaha, aku tetap ga kuat. Tenaga sudah habis, aku merasa ini yang terakhir kalinya aku menatap dunia. Kupandangi suami, ku ucapkan kata maaf. Dia hanya tersenyum, ga sanggup berkata apa-apa. Ini yang kedua kalinya dia menyaksikan aku melahirkan, dan reaksinya tetap sama, tersenyum.. Walau ku tahu dia cemas juga.. he..he..

Karena cemasnya, dia sering keluar kamar, aku sampai marah-marah. Bidan malah nanya “Inti zaklan le?”[6]. Aku hanya manyun… He..he.. ketahuan kalau lagi marah…

Ya Allah… mudahkanlah, Ummu ‘Ala terus komat kamit sambil memegang tanganku. Sedangkan suamiku memegang tangan satunya lagi. Ga tahu apa yang ada dalam pikirannya. Yang jelas perjuanganku sangat berat dibanding waktu melahirkan Abdurrahman. Ketuban sudah pun pecah, anakku belum juga mau keluar, padahal dianya yang ga sabaran tadi pengen keluar, sekarang malah main-main dulu. Mungkin masih pamitan ama temennya, hii…hi…😀

Detik-detik kelahiran itu, dengan ku ucapkan kalimat “ALLAHU AKBAR…” anakku lahir juga. Pertama keluar kepala, aku langsung lega, karena aku pikir kayak waktu lahirnya Abdurrahman, keluar kepala udah langsung muncul semuanya terdorong oleh air ketuban.

Rupanya sekarang ga, aku disuruh ngejan lagi, kaget?? Tentu !!! aku mulai ngejan lagi dan dengan satu teriakan “ALLAHU AKBAR..” akhirnya….. Leganya ga ketulungan pas dengar tangisnya memecah suasana yang penuh tanda tanya, hidup atau mati…???

Bidan zainab langsung teriak bilang, “Mabruk ya binti, hadza bint”[7]. Alhamdulillah, akhirnya lahir juga gadis manisku J

Baru saja aku bernafas lega, tersenyum, Bu Zainab mendatangiku langsung menekan perutku dan…croot darah keluar seiring dengan ari-ari anakku, aku langsung teriak karena kagetnya. Ga nyangka gitu. Dia hanya tersenyum dan berkata “Kenapa, apa ada satu lagi didalam yang mau lahir?”. Aduh, malah dibilang masih ada lagi satu yang mau dilahirin, sakiittt ya madam….

Setelah beberapa waktu, anakku diberikan padaku untuk disusui. Aduh imutnya, bibirnya mungil dan merah, alisnya kayak alis Abunya, hitam dan rapi, matanya sipit, ih jadi gemes. Hilang sudah sakit tadi, ga ingat lagi gimana rasanya. Itulah kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sekarang hari-hariku akan berubah lagi, yang biasanya Cuma ngurus satu anak sekarang jadi dua. Yang dulu tidur malam ga terganggu, sekarang sudah ada yang ganggu. Semoga ‘Aisyah menjadi anak yang Sholehah… J

Tafahna al-Asyrof, Juni 2008

Terima kasih kepada Akhi , Bidan Zainab, Ummu ‘Ala dan anaknya Salma, semoga Allah Ta’ala membalasnya dengan Jannah..


[1] Muhammad Taufiq nama suamiku.

[2] Sejenis bajai

[3] Ayo wahai anakku

[4] Sekarang ya Bu Zainab?

[5] Iya, sekarang.

[6] Kamu marah kenapa?

[7] Selamat ya anakku, ini perempuan.