Anakku

Abdurrahman[1].Hari itu adalah hari yang sangat bersejarah dalam hidupku. Hari yang tidak bisa ku lupakan sedikitpun. Hari yang penuh dengan suka cita atas karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ya…hari itu aku melahirkan seorang hamba Allah yang diamanahkan kepadaku dan suami. Seorang anak laki-laki yang kami beri nama ‘ABDURRAHMAN Muhammad Taufiq

Awalnya aku tidak menyangka akan melahirkan hari itu (Selasa, 14-11-2006/22 Syawwaal 1427 H), karena menurut perhitungan tanggal dan bulan, aku melahirkan sekitar akhir bulan November atau awal Desember 2006. Bahkan 2 hari sebelumnya (Ahad, 12-11-2006), aku baru periksa ke Rumah Sakit dan begitulah kata Dokter, sekitar akhir bulan November.

Pada malam atau dini hari sebelum fajar hari Selasa menyinsing, aku merasakan rasa sakit diperut dan pinggang. Dan rasa sakit itu berbeda dari hari-hari sebelumnya. Aku merasa kalau pinggangku hampir putus karena sakitnya. Tapi kwantitasnya masih berjarak sekitar 1 kali setengah jam.

Akan tetapi, pada waktu subuh, rasa sakit itu makin keras dan makin sering, sekitar 1 kali 5-10 menit. Ku coba untuk sholat subuh walau dengan duduk. Selesai sholat, ku coba untuk berjalan, namun hanya beberapa langkah aku sudah tidak kuat. Akhirnya suamiku menyarankan untuk tidur atau istirahat.

Akhirnya, sekitar jam 8 pagi, aku meminta suami agar menelpon Bidan untuk segera datang ke rumah[2]. Karena aku mempunyai firasat kalau akan melahirkan. Setelah setengah jam, barulah bidan tersebut datang dan langsung menemuiku. Dia seorang bidan yang sudah paruh baya, biasa dipanggil Abla Zainab[3]. Dia menyalamiku dan menenangkan diriku.

Kemudian tiba-tiba dia menutup pintu kamar dan langsung memeriksaku. Aku kaget, apakah aku akan melahirkan saat itu tanpa ditemani suami? Dan mulailah aku cemas, sehingga aku berteriak-teriak memanggil suamiku. Setelah dia selesai memeriksaku, dia membuka pintu kamar dan menyuruh suamiku membeli infuse, jarum suntik, obat-obatan, dll ke apotik. Dan dia berkata: “Insya Allah 1 jam lagi lahir”.

Kemudian suamiku menghubungi adiknya untuk segera datang dan untuk membeli apa yang diminta oleh bidan tersebut. Dengan menahan rasa sakit yang tak terhingga, ku coba untuk terus mengingat Allah, memohon kekuatan-Nya agar dimudahkan dalam melahirkan.

Kuterus berdo’a dan berdzikir. Setelah beberapa waktu kemudian, ibu-ibu tetangga yang satu gedung[4] denganku datang untuk membantu dan menyabarkan diriku. Mereka memperhatikanku seperti keluargaku sendiri. Dan aku pun merasa seolah-olah ibuku ada disampingku.

Setelah 1 jam berlalu, barulah akhi datang dari apotik setelah dia menunggu sekian lama, karena apotik belum buka. Kemudian aku dipasangi infuse. Rasa sakit makin keras, aku merasa duniaku akan berakhir. Sekitar jam 10, bidan mengatakan kalau sebentar lagi anakku akan lahir. Para ibu-ibu keluar dari kamarku, kecuali seorang nenek. Melihat aku makin kesakitan, dia membentangkan sajadah dan mulai shalat, entah berapa raka’at, aku tidak tahu, yang pasti dia berhenti setelah aku melahirkan dan langsung memeluk dan menciumku seperti anaknya sendiri. Aku merasa dia seperti nenekku sendiri.

Sewaktu masa-masa anakku akan lahir, aku terus berusaha untuk berdzikir. Aku tidak sanggup berbicara, hanya mataku yang bergantian memandang suami dan bidan, menyampaikan rasa sakitku. Tiba-tiba sakit itu makin keras dan keras, aku berusaha untuk melahirkan anakku, sampai detik-detik kelahiran itu, seolah-olah aku mendapatkan suatu kekuatan. Dengan mengucapkan Allahu Akbar, lahirlah bayi mungil itu berkat pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aku bersyukur kepada Allah, semua orang memuji Allah.

Sewaktu bidan memotong tali pusarnya, aku merasakan hangat tubuh anakku. Kemudian dia diangkat oleh bidan dan dia menangis. Aku melihat tubuh anakku yang putih atau pucat. Kata bidan karena pengaruh cuaca dingin, karena memang aku melahirkan sewaktu musim dingin[5].

Aku tidak tahu bagaimana perasaanku waktu itu, senang, bahagia, sakit, semua bercampur aduk menjadi satu. Bahkan aku merasa sedih karena tidak ada orang tuaku yang mendampingi dan melihat anak pertama sekaligus cucu pertama mereka. Tapi, semua itu terjadi karena memang kondisiku yang jauh dari orang tua dan kampung halaman[6]. Yang pasti Allah selalu bersamaku.

Setelah anakku dibersihkan dan diberi pakaian, Ummu Khalid[7] membawanya padaku. Sungguh dia seorang bayi mungil yang gagah. Wajahnya bulat, matanya sipit, hidung dan bibirnya mungil serta rambutnya yang hitam. Dia menggenggam erat jariku dengan tangan mungilnya. Seolah-olah waktu itu aku tidak merasakan sakit sama sekali.

Hari itu merupakan hari yang kami tunggu-tunggu selama 1 tahun pernikahan kami. Semoga ‘Abdurrahman menjadi anak yang sholeh.

* Terima kasih untuk Nenek, Ummu ‘Ala dan Ummu Khalid yang telah membantu kami, semoga dibalasi oleh Allah dengan pahala yang berlipat ganda.

Tafahna al-asyrof – Egypt, 18 November 2006/ 26 Syawwaal 1427 H.


[1] Muhammad taufiq nama suamiku.

[2] Disini (mesir) memang biasa orang melahirkan dirumah.

[3] Abla berarti Ibuk (bahasa arab)

[4] Satu gedung itu kiri kanan semuanya bersadura dan sdh berkeluarga, semuanya ada 6 tingkat, berarti 6 keluarga dg kami

[5] Musim dingin sejak bulan September sampai Maret.

[6] Kami tinggal di Mesir, karena suami sedang kuliah di Al-Azhar University.

[7] Tetangga sekaligus istri yang punya rumah tempat kami mengontrak.